Breaking News

Sunday, October 8, 2017

GADGET BERMANFAAT, PRESTASI MENINGKAT: PENGGUNAAN GADGET YANG BAIK BAGI SISWA SEKOLAH DASAR



Oleh: Sutikno
tiknosunni71@gmail.com


Masa anak-anak usia sekolah dasar saat ini sangat berbeda dengan masa tahun 1990-an. Pembeda yang sangat besar adalah perkembangan teknologi. Pada tahun 1990-an dengan sedikitnya jumlah televisi, anak-anak masih sempat bermain dengan teman sebayanya sore atau malam hari. Permainan gobak sodor, betengan, kelereng atau sekadar memutar ban bekas sepeda.
Dunia anak-anak saat ini dikelilingi teknologi tinggi. Mudah dijumpai siswa sekolah dasar memegang gadget. Bahkan anak-anak yang belum sekolah pun sudah ditemani benda tersebut. Gadget pun berganti peran menjadi pengasuh anak-anak.
Gadget atau gawai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai peranti elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis (https://kbbi.kemdikbud.go.id). Sedangkan dalam ensiklopedi Wikipedia gadget  adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya (https://id.wikipedia.org).
Pembeda gadget dengan teknologi lainnya adalah unsur kebaruan dan berukuran lebih kecil. Sebagai contoh: (1) komputer merupakan alat elektronik yang memiliki pembaruan berbentuk gadgetnya laptop/notebook/netbook dan (2) telepon rumah merupakan alat elektronik yang memiliki pembaruan berbentuk gadgetnya telepon seluler.
Benda-benda yang termasuk gadget antara lain: telepon seluler, telepon pintar, tablet, laptop, kamera digital, dan pemutar musik. Perkembangan gadget semakin pesat dan mutakhir. Berbagai merk beredar di pasaran. Harga gadget pun semakin terjangkau.   
Harga yang terjangkau menjadikan sebagian besar siswa SD memiliki gadget. Hasil survei The Asian Parent menunjukkan 98% anak-anak di Asia Tenggara menggunakan gadget. Survei ini menyasar 2.500 orang tua di Singapura, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Filipina pada awal tahun 2014 (Maya, 2014).
Hasil survei The Asian Parent juga menunjukkan tujuan orang tua memperbolehkan anak-anak menggunakan gadget untuk keperluan edukasi. Selain itu, alasan lainnya adalah untuk hiburan, pengenalan teknologi sejak dini, serta untuk membuat mereka tenang atau sibuk.  
Pelarangan membawa dan menggunakan gadget tidaklah berdampak signifikan. Hal ini disebabkan mereka dapat menggunakan secara sembunyi-sembunyi. Sebagai konsekuensi hidup dalam era global, dampak gadget pada anak-anak bergantung pada pengaturan penggunaan gadget yang baik.

Gadget yang Aman

Penggunaan gadget untuk siswa SD harus memenuhi standar keamanan bagi anak-anak. Gadget dapat  menyebabkan kecanduan. Hal ini ditunjukkan dengan gejala anak-anak merasa tidak nyaman ketika beberapa saat tidak memegang gadget (Widjanarko dan Esther, 2016). Kecanduan ini menyebabkan anak menjadi abai dengan kewajiban belajar maupun bersosialiasi. Pemakaian gadget yang aman paling tidak diatur sebagai berikut.
Pertama, penggunaan dibatasi waktu. Akademi Dokter Anak Amerika dan Perhimpunan Dokter Anak Kanada menyatakan batas aman bagi siswa SD menggunakan gadget adalah dua jam sehari (Fitriyani, 2017). Selanjutnya dipaparkan bahwa anak-anak dan remaja yang menggunakan gadget  berlebihan memiliki risiko kesehatan serius yang dapat mengakibatkan kemarian. Oleh karena itu, anak-anak perlu dilibatkan dengan permainan fisik yang ada di lingkungan sekitar, misalnya sepak bola, kelereng, dan lain-lain.
Kedua, pasang fitur kontrol orang tua. Orang tua wajib melek teknologi dengan mengaktifkan fitur kontrol orang tua. Sekolah dapat memberikan edukasi kepada orang tua tentang penggunaan fitur ini. Fitur kontrol orang tua berfungsi melindungi anak dari dampak negatif penggunaan gadget. Orang tua dapat  memantau kegiatan anak-anak dan lokasi dengan perangkatnya  (Setyanti, 2014).
Ketiga, dampingi anak-anak ketika bermain gadget. Selain dapat mengontrol perilaku anak dalam memanfaatkan gadget, orang tua juga dapat menjalin komunikasi lebih intensif dengan anaknya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan tentang aplikasi atau game yang sedang dimainkan.  
Keempat, orang tua dan guru sebagai teladan. Penggunaan gadget harus memperhatikan kondisi. Ketika guru sedang dalam proses pembelajaran hindarkan sejauh mungkin menggunakan gadget yang tidak berhubungan dengan pembelajaran. Demikian pula orang tua, ketika berkumpul dengan keluarga di rumah, manfaatkan untuk berkomunikasi lebih intensif dengan anak-anak. Jangan jadikan jarak dekat menjadi jauh. Semua orang sedang tekun memegang gadget masing-masing, namun, abai dengan orang di sekitarnya.

Gadget sebagai Media Pembelajaran

Piaget berpendapat, anak-anak SD cara berpikirnya pada tahapan operasional konkrit (Budiyarti, 2014: 72). Pada tahapan ini anak-anak sudah mampu berpikir rasional, seperti penalaran untuk menyelesaikan suatu masalah yang konkret (aktual). Oleh karena itu pembelajaran tanpa media berakibat siswa tidak mampu belajar dengan optimal.
Salah satu fungsi media dalam pembelajaran yakni sebagai pembawa informasi atau pesan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Media pembelajaran bermanfaat agar pesan yang disampaikan lebih jelas. Media juga dapat mengurangi verbalistis serta mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indera.
Gadget tergolong media pembelajaran berkategori pandang-dengar (Susilana dan Cepi, 2009). Sejauh mana manfaat gadget sebagai media pembelajaran, bergantung pada kreativitas guru. Guru harus membuat perencanaan yang baik untuk memanfaatkan gadget dalam pembelajarannya.
Pertama, gadget dapat dimanfaatkan dengan tujuan siswa mampu mengeksplorasi sumber-sumber belajar. Guru menugaskan kepada siswa untuk mencari sumber belajar pada materi tertentu, mempelajarinya dan mendiskusikan dalam kelompoknya. Sumber belajar ini dapat dibagikan dalam bentuk pranala, berkas atau siswa aktif menemukan sumber belajar sendiri.
Kedua, menjadikan gadget sebagai piranti dokumentasi proyek. Topik yang dapat memanfaatkan gadget dalam pembelajaran tersebar pada berbagai mata pelajaran. Mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan topik wawancara, IPA dengan bentuk-bentuk daun, matematika dengan pengumpulan data, dan seterusnya. Setiap proyek harus dibuatkan laporannya.  
Ketiga, gadget sebagai media presentasi. Gadget yang dimiliki siswa dipasang aplikasi dokumen, penghitung angka (excel), presentasi dan pemutar video. Saat ini melalui gadget tersebut siswa dapat menyusun presentasi yang menarik dan menyajikan di depan kelas melalui jaringan nirkabel. Pemanfaatan gadget dapat mengeksplorasi kompetensi siswa dalam hal menulis, membuat komposisi (seni), mengatur waktu, dan menyajikan (presentasi).   

Gadget Multimanfaat

Gadget di tangan anak ibarat pisau bermata dua. Pengguna dapat mengambil manfaat atau mudarat. Siswa SD dapat memanfaatkan gadget sebagai: (a) sarana komunikasi; (b) sarana belajar; (c) sarana bermain atau hiburan; dan (d) sarana aktualisasi diri.
Fungsi utama telepon seluler pada awalnya sebagai sarana komunikasi. Alat ini menghubungkan orang melalui panggilan suara dan pesan. Perkembangan telepon seluler selanjutnya, yaitu telepon pintar dapat melakukan panggilan video. Selain itu komunikasi juga dapat dilakukan melalui surat elektronik atau aplikasi obrolan daring. Orang tua juga dapat memantau keberadaan anaknya melalui aplikasi penanda lokasi.
Sarana belajar menggunakan gadget dapat dilakukan dengan memasang aplikasi tertentu. Aplikasi tersebut diantaranya aplikasi belajar membaca, perpustakaan digital, toko buku digital atau aplikasi pembaca buku elektronik. Sebagian buku bacaan untuk anak-anak sudah dibuatkan versi digitalnya. Buku-buku digital ada yang gratis ada pula yang berbayar. Khusus buku pelajaran telah digitalkan dengan tajuk Buku Sekolah Elektronik (BSE).
Orang tua dan guru secara regular merilis buku-buku yang dapat dibaca anak-anak. Selain meningkatkan kemampuan membaca ada kompetensi lain yang dapat diambil dari aktivitas ini. Kemampuan merangkum hasil bacaan dan menceritakan kembali buku yang telah dibaca merupakan kompetensi yang dapat dikembangkan.
Bilamana guru dan orang tua tidak memberikan tindak lanjut setelah membaca buku maka pengembangan kompetensi anak-anak tidak maksimal. Orang tua wajib menyisihkan sehari minimal 30 menit untuk mengetahui hasil bacaan anak-anaknya. Metode seperti ini sekaligus untuk mendekatkan hubungan orang tua dan anak.
Gadget sebagai sarana belajar dapat dimanfaatkan dengan memasang aplikasi-aplikasi pengeksplor minat anak-anak. Anak-anak dapat belajar membaca, matematika, IPA, bahasa asing dengan bantuan gadget. Bahkan ada aplikasi yang dapat membantu anak-anak menambah vocabulary-nya dan memperbaiki cara membaca (pronunciation) dengan balikan berupa suara.
Salah satu sarana belajar yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah rumah belajar. Pada situs web ini tersedia sumber belajar yang dapat dipakai anak-anak untuk meningkatkan kompetensi mereka. Selain itu anak-anak juga dapat berlatih mengerjakan soal dan bergabung dalam kelas maya.
Anak-anak juga dapat belajar keterampilan melalui gadget. Keterampilan seni kriya, fotografi, video dan lain-lain. Salah satu kisah sukses yakni seorang siswa sekolah dasar berusia sembilan tahun, mampu menjual slime dengan omzet Rp 50 juta/bulan (Detik Finance, 2017). Keterampilan membuat slime diperoleh dari video tutorial yang ada di gagdetnya. Promosi slime-nya juga dilakukan melalui media sosial  sehingga mampu menjual sampai luar negeri. Hal ini menunjukkan gadget dapat dimanfaatkan sebagai alat aktualisasi diri.
Gadget sebagai sarana bermain merupakan keinginan anak-anak yang paling besar. Tergantung pada orang tua, jenis permainan yang dapat dipasang pada gadget anak-anak. Tersedia jenis-jenis permainan sekaligus wahana untuk belajar. Misalnya: puzzle, permainan matematika, tebak gambar, adu cermat, dan lain-lain.

Gadget untuk Literasi

Salah satu keterampilan yang dibutuhkan di Abad 21 adalah digital literacy (British Council, 2017). Anak-anak yang sudah terlanjut berteman dengan gadget di tangannya perlu dikembangkan literasi digitalnya. Pemahaman literasi digital akan membawa siswa SD tidak hanya sekadar menekan tombol agar terhubung ke dunia maya. Anak-anak perlu dibekali keterampilan 4 K (Dowd, 2017).
Pertama, berfikir kritis. Siswa perlu berfikir kritis ketika membaca artikel atau melihat foto yang belum tentu dijamin kebenarannya, yakni ada potensi berita palsu (hoaks). Siswa harus memahami cara menemukan informasi yang benar dan baru tanpa terjebak dengan berita palsu. Semakin mudah akses media sosial, semakin rentan mendapat berita palsu, bahkan penipuan jika siswa tidak mampu berpikir kritis.
Kedua, kreativitas. Anak-anak tidak sekadar diposisikan sebagai pengguna gadget. Mereka dapat dirangsang dan dikembangkan potensinya untuk membuat aplikasi yang berkualitas dan bermanfaat. Agar dapat bermanfaat lebih serta mengetahui keasliannya maka anak-anak didorong untk mempublikasikan karyanya.
Ketiga, komunikasi. Kemampuan berkomunikasi sangat penting di situasi manapun. Khususnya komunikasi di dunia maya. Siswa dibimbing agar mampu berkomunikasi dengan bijak. Komunikasi tidak bermakna sempit dengan aplikasi chatting belaka. Berkomunikasi dalam hal ini termasuk berbagi informasi, berbagi file maupun aplikasi. Setiap konten atau komentar yang pernah diunggah akan menjadi jejak digital. Anak-anak perlu disadarkan agar meninggalkan jejak digital yang positif. Kemampuan komunikasi yang baik juga akan mampu menghubungkan mereka dengan anak-anak lain di dunia tanpa batas.
Keempat, kolaborasi. Aplikasi-aplikasi baru diciptakan salah satunya supaya anak-anak mampu berkolaborasi dengan anak lain. Teknologi tidak menjadikan mereka asing dengan lingkungan sekitar atau orang lain di dunia maya, tetapi mampu menghubungkan dengan orang lain. Kemampuan kolaborasi akan membantu siswa untuk menghadapi tantangan global.
Selain itu gadget yang dimiliki siswa dapat untuk mengembangkan literasi membaca, menulis, angka dan keuangan. Telah tersedia aplikasi membaca permulaan sampai aplikasi membaca e-book. Aplikasi membaca ini juga disertai kemampuan suara yakni membacakan teks-teks yang ada.
Guru dan orang tua membuat perencanaan yang baik dengan mengumpulkan aplikasi-aplikasi yang mendukung anak-anak mengembangkan kemampuan membacanya. Selain itu dilengkapi dengan buku-buku yang bermutu. Jadi buku-buku elektronik yang dapat dibaca siswa telah melewati kontrol orang tua dan guru. Oleh karena itu sangat penting melibatkan orang tua dalam pengembangan literasi membaca bagi anak-anak.
Siswa SD juga dapat dikembangkan literasi menulisnya melalui gadget. Mereka sudah mampu memainkan jemarinya di atas papan ketik yang ada di gadgetnya. Siswa SD sudah terbiasa berkirim pesan melalui aplikasi messenger. Selain itu sebagain dari mereka sudah mafhum dengan pembaharuan status di facebook, twitter, whatsapp maupun instagram.
Kemampuan ini dapat dioptimalkan dengan memanfaatkan aplikasi pembuat tulisan yang ada di gadget. Bahkan saat ini sudah ada aplikasi yang dapat mengubah suara menjadi teks, misalnya: speechnotes, speech to text, dan lain sebagainya. Menulis bukan sesuatu yang sulit.
Pengembangan literasi menulis dapat dimulai dengan mencatat kegiatan sehari-hari atau berupa catatan harian (diary). Selanjutnya dapat dikembangkan dengan tanggapan atas kejadian atau peristiwa yang dialami atau dilihat. Bahkan siswa dapat diajak menulis tentang gurunya, teman, kepala sekolah atau tentang sekolahnya.
Kumpulan-kumpulan tulisan tersebut dengan bantuan guru dapat dicetak menjadi sebuah buku antologi. Suatu ketika bukan sesuatu yang mustahil mereka dapat membuat tulisan fiksi atau nonfiksi dengan baik. Hal ini terbukti dengan anak-anak usia 7-12 tahun yang mampu mempublikasikan bukunya. Salah satunya melalui Kecil-Kecil Punya Karya dari Penerbit Mizan (http://rumahkkpk.com/).
Literasi angka dan keuangan juga dapat dikembangkan melalui gadget. Bagaimana siswa mengelola uang yang dimiliki dengan membuat catatan yang rutin tentang uang masuk dan keluar. Aplikasi pencatat keuangan juga dapat dipasang di gadget. Setiap bulan siswa diajak untuk mengevaluasi catatan pemanfaatan uangnya. Selain untuk pembelajaran aritmatika sekaligus pembelajaran manajemen keuangan bagi siswa. Bahkan aplikasi ini sudah menampilkan grafik sebagaimana pembelajaran diagaram bagi siswa kelas 6 SD. Siswa dapat belajar membaca diagaram. Antar siswa juga dapat saling memberi soal tentang diagram.
Gadget dapat berdampak positif maupun negatif. Semua bergantung kepada pengambil manfaatnya. Penggunaan gadget bagi anak usia sekolah dasar wajib didampingi dan diarahkan oleh orang tua dan guru. Tujuan akhir dari penggunaan gadget bagi anak sekolah dasar yakni meninggikan manfaat dan mengurangkan mudarat.

Daftar Pustaka

British Council. 2017. Connecting Classrooms: An introduction to core skills for leaders. Jakarta: British Council.
Budiyarti, Sri. 2014. Problematika Pembelajaran di Sekolah Dasar. Yogyakarta: Deepublish.
Detik Finance. 2017. Bisnis Slime, Siswi SD Ini Kantongi Omzet Rp 50 Juta/Bulan. https://finance.detik.com/solusiukm/3494763/bisnis-slime-siswi-sd-ini-kantongi-omzet-rp-50-jutabulan, diunduh pada tanggal 1 Oktober 2017.
Fitriyani. 2017. Penelitian: ini 10 Bahaya Gadget bagi Anak di bawah usia 12 Tahun. The Asian Parent Indonesia, https://id.theasianparent.com/10-bahaya-penggunaan-gadget-pada-anak/, diunduh pada tanggal 1 Oktober 2017. 
http://rumahkkpk.com/, diunduh pada tanggal 1 Oktober 2017. 
https://id.wikipedia.org/wiki/Gawai, diunduh pada tanggal 1 Oktober 2017. 
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/gawai, diunduh pada tanggal 1 Oktober 2017. 
Maya, A. 2014. Survey tentang Smartphone & Tablet – Hasilnya Mengejutkan. The Asian Parent Indonesia, https://id.theasianparent.com/hasil-survey-smartphone-yang-mengejutkan/, diunduh pada tanggal 1 Oktober 2017.  
Setyanti, Elfa Putri. 2014. Para orang tua, coba 5 aplikasi ini untuk memantau gadget anak, https://id.techinasia.com/5-aplikasi-pantau-kegiatan-keamanan-smartphone-tablet-anak, diunduh pada tanggal 1 Oktober 2017.
Susilana, Rudi dan Cepi Riyana. 2009. Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilian. Bandung: CV Wacana Prima.
Widjanarko, Jarot dan Esther Setiawati. 2016. Ayah Baik-Ibu Baik, Parenting Digital: Pengaruh Gadget dan Perilaku terhadap Kemampuan Anak. Jakarta: Keluarga Indonesia Bahagia.
Read more ...

Wednesday, October 4, 2017

BERKIBAR DI RUMAH BELAJAR

Rumah belajar. Dua buah kata yang penuh makna. Rumah memberikan kesan informal, sebagaimana salah satu jalur pendidikan melalui keluarga dan lingkungan. Belajar merupakan sebuah aktivitas. Aktivitas memiliki makna adanya kegiatan atau keaktifan untuk mendapatkan pengetahuan atau keterampilan.
Rumah belajar yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan sebuah portal daring. Portal ini terbuka bagi siapa saja yang memiliki minat untuk belajar. Tidak hanya siswa atau guru, masyarakat umum juga dapat memanfaatkan portal ini. Rumah belajar memiliki manfaat antara lain: sebagai sumber belajar, sebagai sarana komunikasi dan kolaborasi serta sebagai wahana pengembangan profesionalisme guru.
Model belajar yang dilakukan di rumah belajar tidak terikat oleh tempat, waktu dan orang. Ketidakterikan tempat, artinya belajar di rumah belajar dapat dilakukan ketika di rumah, di lapangan bola, di sawah. Belajar dapat  dilaksanakan di manapun.  
Kebebasan waktu, artinya waktu belajar dapat disesuaikan dengan kesempatan yang dimiliki. Namun, komitmen belajar tetap penting. Kemampuan mengatur waktu akan menentukan kesuksesan dalam belajar. Sebab belajar di rumah belajar dilaksanakan secara mandiri. Kecepatan belajar bergantung kepada masing-masing pembelajar.
Portal rumah belajar secara khusus menyediakan laman untuk guru melalui pengembangan keprofesian berkelanjutan. Guru dapat mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) secara daring. Diklat yang disediakan juga beragam. Sayangnya, bagian ini belum dikelola dengan maksimal sebagaimana portal etraining.seamolec.org.  

Pembelajar juga memiliki kebebasan untuk mencari mitra belajar. Siswa dapat memilih guru yang disukai. Siapapun dapat berkibar dan bersinar jika mau belajar. Sebagaimana moto Rumah Belajar, yaitu belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Ayoo belajar!

Read more ...

Friday, September 29, 2017

PERJALANAN MEWAH


Selesai pelatihan, teman saya memaksa untuk segera pulang. Tak sabar menunggu makan siang. Segera saya kemasi pakaian kotor serta peralatan mandi ddan buku-buku ke dalam tas. Selain oleh-oleh makanan dan cideramata, tak lupa buku tulisan teman saya masukkan ke dalam tas.
Pak Manto dengan segera pesan taksi daring dari gawainya. Menunggu lima menit, jemputan pun datang. Kami bertiga menuju terminal bus. Berbaris rapi di depan loket, kami membeli tiket dengan tujuan yang berbeda-beda.  Saya berhenti paling awal nantinya.
Setelah mendapat tiket, baru saya sadar. Wow!!! Ternyata saya jadi orang kaya. Kami akan naik “Gunung Harta”. Serasa berpetualang ala Indiana Jones yang mendapatkan harta karun. Entah mengapa, pemilik bus memberi nama itu. Mungkinkah dia pernah mendapat harta karun? Saya coba berimajinasi sejenak. Melayang menjadi orang kaya dan super kaya. Serasa membeli apa saja bisa. “Hei!!!”, teriak teman memutus anganku. Sambil menunggu datangnya bis tersebut, kami makan dan menunaikan shalat.
Selepas shalat, tidak seberapa lama teman saya berkata bis sudah datang. Kami pun bergegas menuju terminal enam. Ternyata bus yang datang bukan bus kami. Kami bertiga memiliki kekaguman yang sama dengan bus-bus ini. Roda belakang berjajar dua. Bagasi bus pun sangat lapang. Orang dengan ketinggian badan 150 centimeter dapat dengan leluasa masuk ke dalamnya. Bahkan bus lainnya bertuliskan “Double Decker”. Ketika saya amati, bus ini semacam bus tingkat. Selain bus kota, saya pernah naik bus tingkat ketika perjalanan dari Kualalumpur menuju Hatyai, Thailand. Saat liburan kuliah di Universiti Putra Malaysia.
Akhirnya, bus yang kami tunggu datang. Sebuah bus eksekutif dengan tempat duduk 2-2. Kapasitas untuk ... penumpang. Di setiap kursi telah disiapkan selimut dan bantal. Sedangkan kursinya full reclyning set serta dilengkapi dengan penahan kaki. Kakipun terasa lebih nyaman karena ada penopangnya.
Jelang Surabaya, awak bus membagikan kudapan yang dikemas dengan cantik. Isinya air mineral, dua potong roti dan kacang goreng. Rotinya pun dikemas khusus untuk perusahaan bus Gunung Hket arta. Lumayan lezat.
Harga tiket bus ini memang lebih mahal dari bus yang biasa saya naiki. Bahkan dua kali lipat. Dengan fasilitas yang diberikan, harga memang sepadan. Benar kata iklan, “Harga tidak mengkhianati kualitas”.

Perjalanan berhenti sementara di rumah makan Tuban. Ini juga paket fasilitas yang disediakan awak bus. Ditemani angin semilir yang bertiup dari laut, kami habiskan hidangan yang diberikan. Lidahku dengan mudah berdaptasi. Karena makan pada saat yang tepat, yaitu lapar.
Read more ...

Thursday, September 28, 2017

Angka Magis, 35 dan 53

Jika Shakespare dengan adagiumnya yang terkenal “apalah arti sebuah nama”, beda halnya dengan Bapak Mohammad Ihsan berujar “Apalah arti sebuah angka”. Ternyata angka tertentu bagi sesorang memiliki makna yang ajaib. Tidak semua orang memiliki hubungan dengan angka-angka kecuali angka-angka ulang tahunnya. Itupun sekadar hitungan tambah usia saja.
Bagi Mas Eko Prasetyo, saya sebut Mas Eko karena lebih muda usia dibandingkan saya. Tetapi produktivitasnya, jangan ditanyakan. Kata Rhoma Irama, terlalu. Maksudnya terlalu produktif. Belum tahu dulu waktu kecil makannya apa sehingga mampu seproduktif itu.
Kembali ke angka 35 dan 53. Menurut riwayat Bapak Mohammad Ihsan, angka 35 dan 53 merupakan angka spesial bagi Mas Eko. Tahun 2017 ini usianya 35 tahun tetapi sudah menerbitkan 53 buku. Walaupun belum saya telusuri kebenarannya, tetapi dengan jalur riwayat Pak Mohammad Ihsan, peringkat hasan pun dapat diterima.
Usia dan poduktivitas tentulah bukan angka-angka semcam deret hitung dan deret ukur saja. Memang usia berbanding lurus dengan deret hitung, yakni selalu bertambah seiring bergantinya waktu. Namun angka produktivitas, belum tentu berbanding lurus dengan usia. Apalagi dalam hal dunia penulisan buku.
Di usia saya yang mendekati 50 tahun ini, belum satupun buku kuhasilkan. Maksudnya buku yang diterbitkan dan memiliki ISBN. Jika sekadar jilidan skripsi atau PTS tentulah sudah punya. Hanyasanya PTS yang kubuat tidak menarik penerbit untuk diterbitkan sebagai buku yang layak jual dan pantas dipajang di toko-toko buku ternama. Beda halnya dengan Andrea Hirata, dimana karya tesisnya diterbitkan menjadi buku pegangan mahasiswa.
Semoga, Mas Eko dapat mempertahankan produktivitasnya dalam penulisan buku. Walaupun di usianya yang ke-40 tahun nantinya tidak lah mungkin hanya memiliki 04 buku tapi menghasilkan 4 buku setiap tahun atau bahkan setiap bulannya. It’s magic number.
Read more ...

Tuesday, September 26, 2017

POS KETAN


Sebagai penggemar kuliner, sebelum berangkat ke Batu, saya mencari informasi tentang makanan yang khas dan fenomenal. Melalui browsing dan bisik-bisik dengan tetangga, muncullah nama ketan durian. Yakni, makanan yang terbuat dari beras ketan dan durian.
Tak membutuhkan waktu lama, berlima kami menumpang taksi daring menuju TKP. Bertempat di sekitar alun-alun kota Batu, tempatnya kecil dan ramai. Sebelah kiri dan kanan pun, banyak penjual makanan. Makanan dari Malaysia, yaitu Sate Malaysia juga ada.
Pemilik warung ketan durian memasang papan nama Pos Ketan di depan. Tempat yang kecil sedangkan antrian yang berjubel memaksa sebagian harus berdiri. Yang unik, pembeli harus memesan terlebih dahulu dan membayar lunas. Kasir selanjutnya memberi nota dan nomor meja.
Pengunjung harus mencari meja yang kosong terlebih dulu. Setelah ketemu meja kosongnya, pengunjung meletakkan nomor meja. Kemudian, salinan nota dikembalikan ke kasir agar segera dilayani. Bagi pengunjung yang belum menemukan meja kosong, mau tidak mau mereka harus berdiri.
Tidak seberapa lama, ketan durian saya datang. Diletakkan dalam piring plastik kecil berdiameter 15 centimeter. Nasi ketan disiram dengan kuah santan dan di pinggir piring ada dua biji durian. Tidak sebagaimana ketan durian yang pernah saya makan sebelumnya. Durian sebagai topingnya berupa bubur durian. Ketika menyendok ketan maka bubur durian otomatis masuk dalam suapan.

Ketan durian di Pos Ketan menggunakan durian kupas yang baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Saya harus menyendok durian terlebih dulu dilanjutkan ketan untuk merasakan ketan durian bersamaan. Ketannya lembut, porsinya pun cukup bagi saya. Hanya saja daging durian yang masih menempel pada biji agak menyulitkan.
Tapi tetap maknyuss juga rasanya.
Read more ...

Monday, September 25, 2017

PELATIHAN YANG DIRINDUKAN


Tidak setiap guru pernah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan pemerintah. Apalagi mendapat kesempatan jalan-jalan ke ibukota negara. Sesuatu banget. Ini yang biasa disebut rizki anak shaleh.
Inilah pelatihan yang dirindukan. Yakni pelatihan yang tidak berbiaya (alias gratis) bahkan akomodasi sudah disiapkan. Apalagi bisa naik pesawat terbang walaupun kelas ekonomi tak apalah. Seekonomi-ekonominya Garuda tentu lebih baik dari ekonomi Singa. Kali ini pelatihan diselenggarakan di sebuah hotel berbintang empat. Hueebat bener. Sayang sekali, tidak semua fasilitas hotel dapat dinikmati. Salah satunya kolam renang. Maklum, tidak bawa pakaian renang. Kalau beli di sini, takutnya uang saku tak cukup untuk membeli oleh-oleh.
Sebenarnya bukan karena gratis, menjadikan sebuah pelatihan dirindukan. Bukan pula karena sudah disediakan akomodasi apalagi transportasi. Pelatihan yang dirindukan tentu saja pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan guru. Salah satunya pelatihan membuat buku.
Berdasarkan Permen PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 menulis buku menjadi salah satu syarat. Yaitu syarat naik pangkat dari golongan IV/b ke golongan IV/c. Guru wajib menyusun minimal sebuah buku. Pada kenaikan pangkat sebelumnya, yakni golongan IV/a ke IV/b belum ada kewajiban ini.
Latihan menulis buku dan menerbitkannya, sangat diperlukan. Seluk-beluk penerbitan buku, sebagian besar guru belum memahaminya. Kemampuan menembus penerbit yang sudah ada diperlukan usaha keras tersendiri. Oleh karena itu, banyak guru yang belum mampu menghasilkan karya sendiri berupa buku.
Kerinduan pada pelatihan juga berdasarkan siapa narasumber. Sebagaimana pelatihan-pelatihan yang lain, narasumber hanya membawakan teori-teori yang didapatkan dari pelatihan instruktur sebelumnya. Bukan berdasar pada praktik-praktik yang telah dilakukan sebelumnya.
Jauh berbeda dengan pelatihan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan media guru. Para narasumber, benar-benar praktisi di bidangnya. Mereka memberi motivasi dan inspirasi dari diri mereka sendiri. Sebagai contoh Mas Eko Prasetyo, diusianya yang tiga puluh lima tahun (35) sudah menghasilkan buku lima puluh tiga (53). Sesuatu banget kan. Entahlah diusianya yang ke tiga puluh sembilan (39) nanti apakah Mas Eko mampu menghasilkan sembilan puluh tiga (93) karya. Woww.
Selain itu faktor yang menjadikan pelatihan itu dirindukan, semacam mottonya StarMild “Bikin Hidup Lebih Hidup”. Pastilah sesuatu yang membosankan, pelatihan dimana pesertanya merasa ngantuk selayaknya lampu tinggal 1 watt. Yang ada hanya melihat detak jam yang seakan tak mau beranjak dari tempatnya. Pelatihan harusnya membuat segar peserta, antuisas yang tinggi, so hilanglah kantuk itu terbang bersama asap kopi hitam.

Tulisan ini juga ada di http://sutikno.gurusiana.id/article/pelatihan-yang-dirindukan-4064360.
Read more ...

INCREASING THE ROLE OF PARENTS IN THE DEVELOPMENT OF STUDENT LITERATION


One of the core skills is digital literacy. This skill can develop maximally when interest in reading and writing good. The ability to read and write students SDN Karangmlati 2 Demak is still low. Solution to overcome the problem is by involving parents in the development of literacy. The involvement of parents in the development of literacy among students through activities: reading a story book before bed, mentoring in reading and writing, writing control cards, school library volunteers, and volunteers to read stories at school. School responsibilities include making affirmative literacy stickers, literacy affirmation boards in schools, books, mini bookshelves, reading lodges, and control cards. Differences in educational background as well as the economics of parents, making this program needs adjustment. Some parents who have not been able to read, not fluent reading and low reading hobby. Most of the economic circumstances of the students' parents are lower middle class, so buying books is not a priority. Increasing the role of parents is done by stages: understanding of literacy programs and parental responsibilities, simulating the activities of old roles, monitoring and rewarding.  School Literacy Team visits and mentoring for students who have not shown any progress. Parental involvement is an effective way to develop student literacy. Parents as an example for their children at home.
Read more ...
Designed Template By Blogger Templates - Powered by Sagusablog